Sabtu, 07 Juli 2007

Tentang Pernikahan

Nikah adalah perbuatan yang mulia. Mencipta rumah tangga dua insan yang berbeda. Itulah yang kudapat dari ngobrol santaiku dengan Mas Imam, teman akrab yang sudah menikah.
Awalnya aku berpendapat nikah itu persoalan yang mudah. Bayanganku hanya bagaimana nafkah itu bisa mencukupi kehidupan rumah tangga. Solusinya bagaimana memastikan suami memiliki kekayaan, apakah itu dari warisan orang tua, bekerja, atau bisnis. Sehingga apa pun kebutuhan keluarga nanti akan dapat terpenuhi dengan sendirinya.
OK, sampai di sini sepertinya rumah tangga akan mendapat kebahagiaan. Tapi bagaimana jika musibah datang menimpa, membalikkan semua keadaan. Pada titik inilah rumah tangga akan diuji. Apakah istri akan tetap setia? Pertanyaan sederhana tapi sarat makna. Ujung-ujungnya menjadi, apakah akan tercipta rumah tangga bahagia?
Itulah mengapa materi bukan jaminan menciptakan rumah tangga. Yang terpenting adalah keikhlasan. "Keikhlasan melihat ketidaksempurnaan pasangan kita dengan sempurna, bukan kesempurnaannya".

4 komentar:

Anonim mengatakan...

lumayan

Anonim mengatakan...

Mencari pasangan yang sempurna adalah ego dalam percintaan. Berusahalah mencintai dirimu dalam dirinya, ketika kau sudah sampai pada titik itu, maka menikahlah.

Anonim mengatakan...

kesempurnaan ada karena kita ciptakan. kita lengkapi keterbatasan, tentu dengan bantuan yang Maha Sempurna. Salam

Zang'sELeboY mengatakan...

nikah itu sesuatu yang kompelks, ibarat sepakbola sekarang, bukan hanya sebuah permainan, tapi juga banyak unsur didalamnya, politik, bisnis, gengsi, dll. apakah betul pernikahan itu selalu dilandasi dengan cinta, TIDAK. bahkan yang awalnya berkata menikah berdasarkan cinta pun bisa putus ditengah jalan.